Laman

Minggu, 23 Desember 2012

PUISI NARATIF, PUISI METAPORA, PUISI SIMILE, PUISI PERSONIFIKASI

1. Puisi Naratif

Puisi naratif adalah puisi yang menceritakan atau menjelaskan sesuatu berupa rangkaian peristiwa tertentu yang menjalin suatu cerita. Sesuai dengan namanya puisi naratif disampaikan dengan gaya bercerita.
Yang termasuk dalam puisi naratif adalah epik, romansa, balada dan syair. Epik merupakan puisi yang bersifat menjelaskan dan menceritakan sesuatu. Romansa yaitu puisi yang berisi percintaan yang romantis yang penuh dengan luapan perasaan. Kemudian balada adalah puisi tentang kepahlawanan seseorang. Dan syair merupakan puisi dalam bentuk terikat yang mengandung arti atau maksud penyair.

 
2. Puisi Metafora

Puisi metafora adalah puisi yang mengandung  gaya bahasa metafora. Gaya bahasa metafora membuat perbandingan antara dua hal secara langsung dalam bentuk singkat seperti: cindera mata, bunga bangsa, buah hati, kembang desa, dan lain-lain. Metafora sebagai perbandingan langsung menghubungkan pokok pertama dengan pokok kedua. Proses terjadinya sama dengan simile tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan, misalnya:
-     Tingkah laku gadis itu menjadi buah mulut orang sekampung.
-     Pemuda adalah bunga bangsa.
-     Tutur katanya mendinginkan hati.

Metafora adalah kiasan yang menyatakan sesuatu sebagai hal yang sebanding dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama (Altenbernd & Lewis, 1969). Dalam sebuah metafora terdapat dua unsur, yaitu perbandingan (vehiche) dan yang dibandingkan (tenor). Dalam hubungannya dengan kedua unsur tersebut, maka terdapat dua jenis metafora, yaitu metafora eksplisit dan metafora implicit. Disebut metafora ekspisit apabila unsure perbandingan dan yang dibandingkan disebutkan, misalnya cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar. Cinta sebagai hal yang dibandingkan dan bahaya yang lekas jadi pudar sebagai pembandingnya. Disebut metafora implicit, apabila hanya memiliki unsure pembanding saja, misalnya sambal tomat pada mata, untuk mengatakan mata yang merah, sebagai hal yang dibandingkan.
Metafora tampak pada contoh puisi berikut:
Perjalanan ini
Menyusuri langsai-langsai kehidupan
Menyusuri luka demi luka
Menyusuri gigiran abad padang-padang lengang
Menyusuri matahari
Dari laut abadi dahsyat sunyi
(Korrie Lyun Rampan, “Perjalanan,” Suara Kesunyian, 1981).

Dalam puisi tersebut, perjalanan hidup manusia disamakan dengan menyusuri langsai kehidupan, luka, padang lenggang, matahari, juga lautan yang sunyi.


3. Puisi Simile

Simile (perumpamaan) merupakan kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain yang menggunakan kata-kata pembanding seperti bagai, seperti, laksana, semisal, seumpama, sepantun, atau kata-kata pembanding lainnya.
Contoh puisi simile adalah:
Waktu seperti burung tanpa hinggapan
     melewati hari-hari rubuh tanpa ratapan
     sayap-sayap mu'jizat terkebar dengan cekatan
     Waktu seperti butir-butir air
     dengan nyanyi dan tangis angin silir
     berpejam mata dan pelesir tanpa akhir.

("Waktu", W.S Rendra, "Empat Kumpulan Sajak", Pustaka Jaya: Jakarta, Cet.8, 2003)

Dalam puisi tersebut W.S. Rendra meumpamakan “waktu” seperti burung tanpa hinggapan dan butir_butir air yang berjalan tanpa akhir.
 

4. Puisi Personifikasi

Puisi personifikasi berarti adalah puisi yang mengandung majas personifikasi. Majas personifikasi merupakan salah satu bagian dari majas perbandingan. Pada majas personifikasi akan selalu mememberikan atau melekatkan sifat - sifat manusia atau mahluk hidup yang lain kepada benda - benda mati sehingga seolah - olah benda mati tersebut mempunyai sifat seperti layaknya mahluk hidup. Penggunaan majas personifikasi dapat memberikan kejelasan serta memberikan bayangan angan atau pencitraan yang konkret. Dengan memberikan 'nyawa' pada sebuah benda, diharapkan benda tersebut bisa mewakili apa yang ingin disampaikan pada majas personifikasi ini.
Contoh :
  1. Hujan itu menari-nari diatas genting
  2. Tanaman padi disawah melambai-lambai tertiup angin
  3. Kereta api tua itu meraung-raung ditengah kesunyian malam
  4.  Bola itu berlari kencang menuju gawang lawan
  5. Di tangan seorang pujangga, pena pun bisa menari dengan indahnya menciptakan rangkaian kalimat peneduh jiwa
  6. Ujung pohon pun terlihat meliuk menari tiada henti terkena tiupan angin kencang

Dari semua contoh majas personifikasi diatas, kita bisa melihat bagaimana sebuah benda mati menjadi terlihat / dirasakan memiliki nyawa layaknya sebuha mahluk hidup sehingga semakin memperkuat rasa dari benda itu sendiri. Tidak heran bila para pujangga / penyair banyak menggunakan majas personifikasi ini dan memasukkannya ke dalam kalimat - kalimat sastra mereka sehingga lebih hidup.
Contoh puisi yang mengandung majas personifikasi adalah sebagai berikut:
Jalan Kartini
barangkali dalam lelap larut malam
bulan masuk kamar lewat jendela kaca
menyelip di sela waktu tidurku
sedang subuh masih lama tiba

Bait yang mengandung majas personifikasi adalah bulan masuk kamar lewat jendela kaca.

2 komentar: